Balai Sujatmoko, dari rumah seorang dokter menjadi rumah budaya dan seni

Balai sujatmoko dahulu rumah dokter K. R. T. Dr. Saleh Mangoendiningrat dahulu menjadi dokter pribadi dokter pribadi PB-X dan PB-IX, selain menjadi dokter beliau menjadi rektor universitas cokroaminoto yang biasa disingkat uncok. universitas cokroaminoto didirikan pada tahun 1955 dan pada tahun 1979 beberapa fakultas bergabung dengan universitas sebelas maret sehingga universitas cokroaminto pindah ke jogja.

K. R. T. Dr. Saleh Mangoendiningrat seorang dokter keturunan bangsawan Jawa asal Madiun, dan RA Isnadikin Tjitrokusumo, seorang ibu rumah tangga asal Ponorogo. nama anak anak mereka Siti Wahyunah yg lebih dikenal  Poppy Sjahrir karena menjadi istri Sutan Sjahrir, Soedjatmoko Mangoendiningrat, Nugroho Wisnumurti dan Miriam Budiardjo.

Balai Sujatmoko didirakan tahun 2000 dan diambil alih bentar budaya pada tahun 2003. pernah ada sebuah cerita bahwa dahulu bangunan balai sujatmiko akan dirobohkan dan dibangun toko buku gramedia. saat mereka tau akan sejarah rumah tersebut sehingga mengubah denah toko buku dibangun disamping kanan bangunan utama sehingga bangunan utama selamat.

Bangunan balai tersebut dahulunya memiliki beberapa kamar yang terletak di bagian sampingnya dan sempat digunakan sebagai tempat tinggal beberapa kerabat dari Dr. Saleh. Selain itu, terdapat sebuah ruang yang terletak di sebelah barat dekat pintu masuk ke toko Gramedia saat ini, pada awalnya merupakan ruang bersalin. Sedangkan ruang bagian depan balai sebelah timur dulunya merupakan ruangan praktik dan kantor Dr. Saleh.

Pemilihan nama Balai tersebut merupakan penghargaan kepada Soedjatmoko atas segala prestasi dan pencapaiannya. Presiden Direktur Kompas Gramedia, Jakob Oetama yang mengilhami nama balai tersebut menjadi Balai Soedjatmoko. Dengan begitu, diharapkan generasi masa depan dapat mengikuti jejak Soedjatmoko.

K. R. T. Dr. Saleh Mangoendiningrat pada tanggal 7 juli 1941 menurut Bataviaasch nieuwsblad pernah menjadi pembicara dalam acara donor darah di societeit Habiprojo Solo, beliau menjelasan tentang transfusi darah dan menunjukkan kegunaannya pada saat perang dan juga pada saat damai. Ceramahnya diilustrasikan dengan gambar-gambar ringan.

K. R. T. Dr. Saleh Mangoendiningrat pernah menjadi ketua panitia ujian perawat dilaksanakan rumah sakit solosche zieken central di mangkubumen  pada tanggal 27 sampai 31 agustus 1954 yang diikuti 22 perawat dan mereka suskses besar berita ini disampaikan oleh koran De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad.

13 juni 1941 pukul 1 siang Dr. Saleh ikut rombongan susuhunan surakarta menggunakan kereta eksekutif milik SS. didampingi oleh ajudannya pangeran Soeriohamidjojo dan sekretaris umumnya tuan KMT Tirtodiningrat dan dokter istana dr. Saleh Mangoendiningrat . kunjungan ini dimaksudkan unntuk bertemu dengan gubernur jawa timur yang akan pensiun Tn. Ch. O. van der Plas. Ini adalah kunjungan balasan dari sang susuhunan, yang juga akan memberi ucapan selamat kepada Tn. Van der Plas atas pengangkatannya sebagai anggota Dewan Hindia. Perjalanan itu akan berlangsung singkat, tidak lebih dari empat hari. kemungkinan mereka menginap di hotel orange.

Ketika Dr Saleh wafat, seluruh anaknya tidak ada yang pulang kembali ke Solo dan mendiami rumah ini. sebelum dibeli Kompas Gramedia, rumah Dr Saleh tersebut sempat berpindah ke banyak tangan dan kepemilikan, sempat juga menjadi rumah makan dan pabrik kain batik.

pada pameran kartun oom pasikom bertempat di balai sujatmoko ini.

Comments