Salah satu makam bupati surabaya ada di solo lebih tepatnya di pemakaman sentanan laweyan. makam itu milik kyai adipati djangrono II dan dua pengikutnya. tiga makam ini terlihat teurus, dengan adanya pagar putih dan makam yang di cat hitam. dari nisananya terlihat lama seperti nisan lama pada umumnya. dibagian dalam pagar ada prasati pemugaran yang dilakukan oleh yayasan sentono boto putih surabaya pada 10 nopember. apa hubungan surabaya dengan surakarta? kenapa bupati surabaya dimakamkan di surakarta?
Dalam sejarah telah disebutkan bahwa Djangrono II adalah seorang yang turut serta dalam membantu Pangeran Puger untuk mendapatkan tahtanya sebagai Sunan Pakubuwono I, yang kemudian Djangrono II diangkat sebagai Adipati Kliwon, yang berarti membawahi kadipaten yang besar meliputi wilayah pesisir Lamongan sampai Blambangan (Banyuwangi).
Pada saat Belanda melakukan pengkhianatan dan tipu muslihat, Mataram menugaskan Djangrono bersama dengan Tjakraningrat yang berasal dari Madura untuk ikut serta dalam melawan pemberontakan Untung Suropati yang secara terang-terangan menunjukkan kebenciannya terhadap Belanda dengan melakukan pemberontakan. Penugasan tersebut bertujuan sebagai siasat Mataram agar tidak menjadi tertuduh karena telah membantu Suropati. Sehingga Belanda akan tetap menganggap Mataram sebagai sekutunya dan memberikan bantuan-bantuan kepada Mataram.
Belanda meminta kepada Mataram agar Djangrono dapat dibunuh. Jika tidak dilakukan, Belanda mengancam tidak akan memberikan bantuan-bantuan lagi kepada Mataram. Djangrono yang mendengar hal tersebut segera melakukan perundingan dengan para pengikutnya, dari hasil rundingan tersebut ditetapkan bahwa Djangrono akan memberikan jabatannya kepada sang adik yang bernama Djojopuspito. Sedangkan ia sendiri akan menyerahkan dirinya untuk dibunuh demi keamanan dan ketentraman Mataram. Djangrono terbunuh di usianya yang ke 34 tahun pada tanggal 26 Februari 1709 dan dimakamkan di desa Sentanan yang termasuk di wilayah Kartosuro bersama dengan dua orang pengikutnya yang setia mengikuti hingga akhir hayat.
agak sedikit bingung dengan tokoh ini jadi kisahnya tercampur antara Djangrono I dan Djangrono II
sumber:
Devy Zulfa Rosyida, 2021, PERAN PANGERAN LANANG DANGIRAN DALAM PROSES ISLAMISASI DI SURABAYA PADA TAHUN 1595-1638 M
Comments
Post a Comment